What’s Left from 2013: The Journey Part. 3.1

Oh well, sudah pertengahan Februari 2014, dan saya masih punya hutang satu cerita di tahun 2013. Jadi mari kita lanjutkan ke part 3. Yang belum baca part 1 dan part 2 boleh baca dulu, boleh juga langsung ke sini. Btw, karena terlalu panjang, part. 3 ini saya bagi 2 bagian. Ini bagian yang pertama

Kira-kira bagian ketiga ini akan menceritakan soal kerja dan jalan-jalan ke mana ya? Jadi kali ini saya mau menceritakan tentang kerjaan di NTT, tepatnya di Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Ende.

Tanggal 4 Oktober 2013 saya berangkat ke Manggarai Barat bersama dengan 7 orang teman yang lain. Di sana sudah ada 3 teman yang menunggu kedatangan kami. Jadilah mulai dari Manggarai Barat itu kami bersebelas mulai bekerja bareng dalam sebuah tim, yaitu tim DG alias De Ghulams.

image

Then the journey starts from Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Kalau saya bilang Komodo, kalian pasti langsung kepikiran Pulau Komodo yang banyak dihuni hewan melata saudaranya dinosaurus itu. Ya memang gak salah sih, karena Pulau Komodo itu termasuk wilayah Kecamatan Komodo. Tapi sayangnya kita gak sempet nyeberang ke Pulau Komodo karena gak ada waktu buat nyeberang ke sana. Secara kami ke sana buat kerja ya, bukan buat jalan-jalan dan lagi Komodo adalah kecamatan pertama yang kami datangi. Jadi ya masih agak ribet. Akhirnya selama di Komodo kami hanya main-main ke Labuan Bajo, liat sunset di sana. Kebetulan memang di Kelurahan Labuan Bajo ada beberapa responden yang harus kami temui.

Beberapa foto di Labuan Bajo.

image

image

image

image

Secara umum sih, gak banyak kejadian unik di Kecamatan Komodo, semua berjalan lancar. Oh iya, di Labuan Bajo kami bertemu seorang responden yang baik banget sama kita. Budhe ini – iya, kita manggilnya Budhe karena dia orang Jawa – sering nyuruh kita main ke rumahnya yang ada di pinggir pantai itu. Dan tiap kami ke sana pasti dijamu dengan baik, disiapin makan, bahkan ketika mau pindah wilcah kita dibikinin nasi kuning. Beberapa kali kami juga minta bantuan ke Pakdhe (suaminya Budhe) buat nganterin nyeberang ke Pulau Seraya buat ketemu responden.

Kami di Komodo selama 7 hari, di hari kedelapan kami pindah ke Kecamatan Sano Nggoang, masih di Kabupaten Manggarai. Karena medan yang akan ditempuh lumayan susah, tidak ada angkutan umum yang berani mengantar kami ke sana. Jadilah kami berangkat ke Sano Nggoang naik truk yang dicariin sama Pakdhe di Labuan Bajo.

image

image

Kalau di Komodo medan yang kami temput tidak terlalu berat, di Sano Nggoang ini lah perjalanan yang sebenarnya dimulai. Jarang sekali kami bersebelas bisa kumpul bareng di basecamp, karena rata-rata kami nginep di basecamp bayangan di desa masing-masing. Bahkan ketika Idul Adha pun, saya bersama 3 orang teman melaksanakan solat Ied di desa responden kita, Desa Golo Manting.

image

Well, tadi saya sempet bilang kalo medan kerja di Kecamatan Komodo tidak seberat Sano Nggoang. Jadi seperti apakah Sano Nggoang itu? Kira-kira begini.

image

image

image

image

image

Iya, kita ada acara jalan kaki sekitar 5km gara-gara ujan deres dan motor g bisa jalan. Jadilah kami memutuskan untuk jalan kaki. Kalo kata penduduk setempat sih cuma setengah jam, tapi giliran kita yang jalan sampai sejam lebih banyak.

Kalo di Komodo kita dapet view Labuan Bajo, di Sano Nggoang ini ada yang namanya Danau Sano Nggoang.

image

image

image

Selesai di Sano Nggoang, kami lanjut ke wilcah lain, ke Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Perjalanan ke Kuwus kami tempuh sekitar 4 jam dengan naik oto. Oto di Manggarai Barat itu truk yang dimodifikasi dikasih tempat duduk di bak, jadi bisa buat bawa penumpang. Oto merupakan salah satu sarana transportasi utama warga di Sano Nggoang. Perjalanan panjang menuju Kuwus benar-benar berat bagi beberapa dari kami. Kondisi jalan sebenarnya baik, jalanan mulus, tapi konturnya memang melalui pegunungan, jadi ya berliku-liku, naik turun ditambah angin yang langsung berhembus menerpa kami membuat 4 orang dari kami tumbang, alias jackpot, muntah-muntah, termasuk saya. Jadilah sepanjang sisa perjalanan kami jadi lebih banyak diam. Padahal di awal perjalanan kami masih bisa ketawa-ketawa, masih bisa nyanyi-nyanyi bareng sesuai lagu yang diputer di oto. Ngomong-ngomong soal lagu di oto, lagu yang paling sering diputer adalah lagu-lagu Ambon, dan ada 1 lagu yang langsung ‘ngena’ banget, dan kebetulan lagu itu memang lagi happening di seantero Nusa Tenggara Timur. Lagu itu judulnya Mati Rasa, yang nyanyi Richard Rehatta, dan kemarin sempet googling googling, ternyata Pasha Ungu pernah nyanyiin lagu itu juga.

Kembali ke Kuwus. Kecamatan Kuwus termasuk pegunungan, dengan ketinggian sekitar 1000 mdpl *berdasarkan GPS yang kami bawa*. Tidak berbeda jauh dengan Sano Nggoang, lagi-lagi di sini saya dapat jatah desa yang susah, dengan jalan berbatu, serupa sungai yang tidak ada airnya. Jadi sepanjang jalan menuju Desa Golo Riwu itu beberapa kali saya harus turun dari motor, karena partner saya tidak berani berboncengan. Tidak banyak yang ditemukan di Kuwus, salah satunya adalah rumah adat ini.

image

Tapi ada 1 kejadian seru ketika kami di Kuwus. Kejadian ini menyebabkan kami harus kembali ke Sano Nggoang naik motor malam2. Jadi ceritanya begini *standar orang mau cerita*. Hari kesekian di Kuwus, Adi, editor saya sadar kalau ada kekeliruan dalam sampling di salah satu desa, dan otomatis itu berarti harus revisit di satu desa itu (5 rumah tangga sampel). Rencananya hanya 2 orang yang akan balik ke Sano Nggoang, tapi tiba-tiba. Dian, editor yang lain nongol, dan bilang kalau ada kesalahan tipe rumah tangga juga. Akhirnya semua kuesioner di Sano Nggoang diperiksa satu-satu. Dan hasilnya dari 8 desa, hanya 1 yang clear, tanpa kesalahan, sisanya salah 1 rumah tangga. Jadilah sore itu juga Mas Ghulam, SPV kami meminta kami berdelapan balik ke Sano Nggoang buat revisit. Perjalanan malam, naik motor, sekitar 100km dalam waktu 3 jam lebih, dan tidak pake helm. Baru kali ini saya bermotor sejauh itu g pake helm.

7 hari di Kuwus, perjalanan harus dilanjutkan ke Kabupaten Ende. Perjalanan yang amat sangat panjang sekali, dan membuat kami-kami para ‘pemabuk’ agak sedikit was-was.

Untuk menuju Ende, kami harus ke Kabupaten Manggarai dulu. Dari Kuwus kami oto ke Ruteng di Manggarai.

image

image

Dari Ruteng di Kabupaten Manggarai, kami naik travel menuju Ende via jalur trans Flores melewati Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Ngada, Kabupaen Nagekeo. Jika dilanjutkan menelusuri jalur trans Flores dari Ende, kita akan melewati Kabupaten Sikka, dan Flores Timur, dan itu sudah ujung dari Pulau Flores. Kalo diliat di peta, tim kami menjelajah sekitar setengah dari Pulau Flores. Keren sekali.

-masih berlanjut ke Kabupaten Ende-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s