Kadang

Kadang kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Kadang kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Kadang kita hanya mengikuti hawa nafsu yang muncul. Kadang kita hanya mengikuti perasaan sesaat yang tidak bertahan lama. Kadang kita salah menentukan pilihan. Kadang kita menyesali keputusan yang telah diambil. Kadang kita terlalu banyak memikirkan what ifs, bagaimana jika begini bagaimana jika begitu. Kadang kita menjalani hidup dengan spontan. Kadang membuat rencana panjang dengan detail yang dirancang benar-benar. Kadang kita ragu, bukan karena apa, tapi hanya butuh seorang yang mengatakan ‘kamu bisa maju’. Kadang, kadang, dan kadang

#MaretMenulis Hari 2

*Ceritanya ikutan* #MaretMenulis Hari 1

Beberapa hari yang lalu ketika scrolling timeline twitter, tanpa sengaja saya membaca sebuah hashtag yang cukup menarik, #MaretMenulis, ajakan untuk menulis apa pun itu di blog secara rutin. Setiap hari. Saya, sebagai salah seorang yang punya blog-jarang-ada-postingan-baru, merasa kalau ide ini cukup menarik. Selama ini saya memang jarang sekali menuliskan sesuatu di blog, apalagi tulisan-tulisan panjang. Paling banter cuma di akun tumblr  yang berisi kutipan-kutipan lucu kadang galau kadang bijak, dan seringnya berisi foto link dari akun instagram saya. Sempat sih beberapa kali bikin tulisan panjang, tapi itu paling cuma sekali dalam sekian tahun. *memang blogger amatir gak niat nulis*

Jadi, ketika saya melihat hashtag #MaretMenulis, saya iseng mau ikutan, bukan kenapa-kenapa sih, cuman  mau menantang diri sendiri, seberapa konsisten saya akan membuat tulisan di blog macam ini. Well, just wait and see. Semoga beneran bisa konsisten nulis, bukan cuma konsisten di angan-angan saja.

Okay, and my #MaretMenulis starts now.

MaretMenulis

 

 

Rahasia

Hidup itu rahasia. Rahasia yang dibuka sedikit demi sedikit agar bisa dinikmati. Rahasia yang memberikan beragam rasa dalam hati. Terkadang rahasia yang terkuak mampu mengulas senyum bahagia. Namun tak jarang pula dia menghadirkan kisah sedih berujung tangisan.

Manusia tidak akan mampu menguak semua rahasia Tuhan. Manusia hanya mampu melihat bagian-bagian yang memang sudah digariskan untuknya.

Tapi manusia juga memiliki rahasia. Rahasia kehidupannya. Rahasia yang sengaja disimpan rapat hingga akhir hayat, rahasia yang dibocorkan ke orang terdekat dan terpercaya, rahasia yang akhirnya justru menjadi rahasia umum karena semua orang sudah mengetahui.

Yang jelas, manusia memiliki alasannya sendiri untuk memilih menyimpan rapat rahasianya atau mengungkapkannya.

Kenapa tergesa, Manusia?

Iya, kenapa tergesa-gesa, kenapa terburu-buru. Lampu merah masih menyisakan 5 detik tapi kendaraan sudah mulai berlarian melaju. Yang masih sabar menunggu lampu hijau pun terpaksa ikut melaju karena bunyi klakson bersahutan dari arah belakang. Kenapa tidak sabar. Akan ke mana kalian. “Biar cepat sampai tujuan” jawaban yang klise. Tujuan yang mana? Bukankan hanya ada satu tujuan pasti yang kita tuju, kematian. Tapi berapa sih jumlah manusia yang sengaja tergesa menyongsong kematiannya.

The Path We Took

The Road Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I —
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Puisinya Robert Frost itu saya ambil dari wikipedia. Kalau mau cari puisi-puisi lainnya, silakan gugling sendiri. 😀

Beberapa hari yang lalu, saya bertukar obrolan dengan salah seorang kawan. Obrolan biasa sebenarnya, tidak istimewa, hanya seputar pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Klise sekali.

Dalam perjalanan pulang kemudian, saya memikirkan beberapa hal, yang bersumber dari obrolan itu, yang sedikit banyak menimbulkan sebersit rasa menyesal dalam diri saya. Menyesal atas hal yang sudah saya putuskan sebelumnya. Berpikir kenapa harus begini, kenapa tidak begitu. Kenapa saya memilih opsi A, padahal opsi B yang datang kemudian terlihat lebih menyenangkan. Pada akhirnya, karena memang tidak mungkin untuk mengubah keadaan yang sudah terlanjur terjadi, saya pun memilih untuk menambahkan kuah berbumbu, kacang goreng, suwiran ayam, kecap dan sambal di atas nasi yang sudah menjadi bubur itu. Bukankah itu akan mengubah rasanya menjadi lebih baik? Semoga saja.

Setiap pilihan yang sudah kita pilih, setiap persimpangan yang sudah kita lalui, pada akhirnya berujung pada diri
kita yang sekarang. Setiap pilihan yang nanti akan kita pilih, setiap persimpangan yang nanti akan kita lalui, akan berujung pada kita yang ada di masa depan. Tidak masalah apakah kita memilih jalan sebelah kiri atau jalan sebelah kanan, atau mungkin malah berbalik arah, karena masing-masing pilihan itulah yang membentuk kita, yang menentukan masa
depan kita, tentu dengan berbagai konsekuensinya. Terlalu banyak memikirkan sebuah penyesalan tidak akan mengubah suasana, bukan?! Belum tentu jika kita memilih jalan kanan, kita akan sampai pada titik ketika kita memilih jalan sebelah kiri. Begitu juga sebaliknya.

Tidak ada gunanya juga membandingkan hidup yang kita jalani dengan kehidupan orang lain. We have our own path, our own live. Sesuatu yang baik bagi mereka, belum tentu baik bagi kita kan. Banyak orang memilih jalur kanan, tidak perlu kita ikut mengarah ke kanan jika memang sebenarnya ingin ke kiri.

Karena setiap jalan yang kita lalui, itulah yang membentuk kita menjadi kita yang sekarang.

*Tulisan dalam rangka galau sama keputusan*

Foto diambil dari sini