The Path We Took

The Road Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I ‚ÄĒ
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Puisinya Robert Frost itu saya ambil dari wikipedia. Kalau mau cari puisi-puisi lainnya, silakan gugling sendiri. ūüėÄ

Beberapa hari yang lalu, saya bertukar obrolan dengan salah seorang kawan. Obrolan biasa sebenarnya, tidak istimewa, hanya seputar pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Klise sekali.

Dalam perjalanan pulang kemudian, saya memikirkan beberapa hal, yang bersumber dari obrolan itu, yang sedikit banyak menimbulkan sebersit rasa menyesal dalam diri saya. Menyesal atas hal yang sudah saya putuskan sebelumnya. Berpikir kenapa harus begini, kenapa tidak begitu. Kenapa saya memilih opsi A, padahal opsi B yang datang kemudian terlihat lebih menyenangkan. Pada akhirnya, karena memang tidak mungkin untuk mengubah keadaan yang sudah terlanjur terjadi, saya pun memilih untuk menambahkan kuah berbumbu, kacang goreng, suwiran ayam, kecap dan sambal di atas nasi yang sudah menjadi bubur itu. Bukankah itu akan mengubah rasanya menjadi lebih baik? Semoga saja.

Setiap pilihan yang sudah kita pilih, setiap persimpangan yang sudah kita lalui, pada akhirnya berujung pada diri
kita yang sekarang. Setiap pilihan yang nanti akan kita pilih, setiap persimpangan yang nanti akan kita lalui, akan berujung pada kita yang ada di masa depan. Tidak masalah apakah kita memilih jalan sebelah kiri atau jalan sebelah kanan, atau mungkin malah berbalik arah, karena masing-masing pilihan itulah yang membentuk kita, yang menentukan masa
depan kita, tentu dengan berbagai konsekuensinya. Terlalu banyak memikirkan sebuah penyesalan tidak akan mengubah suasana, bukan?! Belum tentu jika kita memilih jalan kanan, kita akan sampai pada titik ketika kita memilih jalan sebelah kiri. Begitu juga sebaliknya.

Tidak ada gunanya juga membandingkan hidup yang kita jalani dengan kehidupan orang lain. We have our own path, our own live. Sesuatu yang baik bagi mereka, belum tentu baik bagi kita kan. Banyak orang memilih jalur kanan, tidak perlu kita ikut mengarah ke kanan jika memang sebenarnya ingin ke kiri.

Karena setiap jalan yang kita lalui, itulah yang membentuk kita menjadi kita yang sekarang.

*Tulisan dalam rangka galau sama keputusan*

Foto diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s