What’s Left from 2013: The Journey Part. 2

Lhoh, kok langsung part 2? Iya, soalnya part 1 udah beberapa hari lalu diposting di sini.

Nah kalau di part. 1 saya cerita sedikit *banget* soal Teluk Bintuni di Papua Barat sana, part. 2 ini giliran cerita tentang Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Jadi dari timur kita lanjut perjalanan ke barat, bukan mencari kitab suci melainkan mencari sesuap nasi. πŸ˜€

Trip Sumatera Selatan berlangsung sekitar 3 minggu di medio Mei-Juni 2013. Di sana kami mengeksplorasi kehidupan masyarakat di beberapa kecamatan di kabupaten Musi Banyuasin. Tentang kehidupan sehari-hari mereka, pekerjaan mereka, sekolah anak-anaknya, permasalahan lingkungan yang terjadi, dan beberapa hal lain terkait kehidupan sosial masyarakat di sana.

Awalnya, ketika dikasih tau soal projek ini, saya pikir, Palembang sepertinya tidak sekompleks Papua. Karena yang ada di pikiran saya saat itu wilayah di Indonesia barat relatif lebih maju daripada di Indonesia timur. Iya sih, pas nyampe di Palembang masih oke, udah kota lah ya. Setelah itu kita pindah ke Musi Banyuasin, dan siapa sangka saya ketemu pemandangan seperti ini:

image

Lhah ini mah sama kayak dari Bintuni ke Manokwari. Itu kalau abis ujan ya, kalau lagi panas g ada ujan, itu debu bisa tebel2, perdu2 yang di pinggir jalan itu warnanya udah bukan ijo lagi, tapi coklat, kayak gini ni:

image

image

Pas di Ulak Embacang, kita sempet naik ketek menyusuri sungai Rawas. Lumayan lah buat ngilangin stres kami semua.

image

Ini penampakan Ulak Embacang dari atas ketek kami yang melaju di atas sungai Rawas.

image

Iya, sebagian warga Ulak Embacang memanfaatkan aliran sungai Rawas untuk MCK.

image

Berasa turis. hihihihi….

image

Entah apa yang ada di pikirannya ketika itu. Eh iya, btw, temen saya yang namanya Fahrezal ini punya blog bagus. Dan akhir-akhir ini dia sedang banyak bercerita soal Sumatera Selatan *karena memang lagi ada kerjaan di sana sih*

image

Rendaman karet-karet di tepian Sungai Rawas. Ketika pertama kali tiba di Ulak Embacang, dan menuju tepian sungai, langsung tercium bau menyengat yang kurang sedap. Selidik punya selidik bau itu berasal dari karet-karet warga yang sedang direndam, sebelum nanti dijual ke para tauke (juragan) karet.

image

Anak-anak di Desa Keban 1. Di mana pun, selalu ada anak narsis yang minta foto, dan anak pendiam yang dengan malu-malu ikut berfoto.

Dan ada satu hal yang menarik kalau berkunjung ke Sumatera Selatan. Coba liat foto ini:

image

Yap, benar sekali, pelafalan P dan F. Dari beberapa kali ngobrol dengan orang-orang Sumatera Selatan mereka memang melafalkan ‘ef’ dengan ‘ep’. Jadi di sana kita tidak akan bertemu seseorang bernama Novi, yang ada hanya Nopi. πŸ˜€

image

Ini tim kami bersama tuan rumah di Ketapat Bening. Kebetulan ini 2 tim menjadi 1, tim kualitatif 3 orang (saya, bang Adji, dan mas Mualimin) dan 4 orang tim kuantitatif (Mas Didik, Fahrezal, Nia, dan Keke).

Kata orang, belum dibilang sah ke Sumatera Selatan kalau belum foto di the most famous landmark in town, Jembatan Ampera. Hampir tiap malem, daerah ini rame banget. Mungkin karena di Palembang jarang tempat nongkrong kali ya.

image

Jembatan Ampera di siang hari

image

Iseng nyoba bikin foto light trails pake hp. Lumayan lah.

image

Gemerlap Ampera di malam hari.

Dan nampaknya ada landmark terbaru dari Palembang, Kompleks Stadion Jakabaring alias Gelora Sriwijaya ini. Sayangnya kemarin pas ke sana Sriwijaya FC lagi g main, jadi sepi2 aja.

image

Lalu menyusuri sungai Musi dan mampir ke Pulau Kemaro, dan liat Pagoda berlantai 9 ini:

image

image

image

Dan saya pun berfoto dengan background jembatan Ampera. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s