Listrik 24 Jam, antara angan-angan dan mimpi yang tak (belum) kesampaian

Barusan saya menemukan artikel ini. Bukan artikel baru sebenarnya, mengingat ditulis di tahun 2011, tapi saya rasa masih relevan dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Apa sih isi artikelnya? Lengkapnya silakan baca di link tersebut, saya cuma mau mengutip beberapa hal saja di sini.

Artikel tersebut judulnya “Ironi di Bintuni, Mummi Listrik di Digul” ditulis di medio tahun 2011 oleh Dahlan Iskan, ketika beliau masih menjabat sebagai Dirut PLN.

Saya mengenal Bintuni sejak Januari 2012. Kalau Digul, saya belum pernah ke sana, jadi nggak tahu kondisinya seperti apa, tapi kayaknya sih nggak beda jauh sama Bintuni, atau wilayah-wilayah lainnya di Papua.

Menurut wikipedia, Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Papua Barat, sekitar 18.000 km2. Jumlah penduduknya sekitar 65 ribu jiwa (data Disdukcapil 2012). Teluk Bintuni terdiri dari 24 Distrik, dan 260 kampung, serta 2 kelurahan. Nah, jumlah penduduk sebanyak itu tidak tersebar merata di seluruh distrik, melainkan sebagian besar terpusat di Distrik Bintuni, yang merupakan ibukota kabupaten.

Itu sekilas profil Teluk Bintuni. Kalau kurang silakan googling sendiri.

Nah sesuai artikel dari link di atas tadi, yang akan saya bahas di sini adalah tentang kelistrikan. Saya kurang tahu sejak kapan tepatnya ada listrik di Bintuni, yang jelas sejak berdiri sebagai kabupaten sendiri pada tahun 2002, listrik udah masuk. Masalahnya adalah, si listrik ini nggak standby selama 24/7, biasanya cuma nyala malem doang. Selama sejarah saya di Bintuni, biasanya listrik nyala mulai jam 5-6 sore, mati jam 6-7 pagi. Awal tahun 2012 sempat nyala 24 jam selama sekitar 1-2 bulan, abis itu kembali ke asal. Dan tak jarang pula mati listrik selama beberapa hari, selama saya di sana sih rekornya 3 hari berturut2.

Terus kalo siang hari mati listrik terus, kehidupan berjalan seperti apa dong?

Biasanya kalo siang pada pake genset, terutama kantor-kantor dan tempat-tempat usaha. Kalau rumah-rumah biasa sih seperlunya aja *tempat saya malah jarang nyalain genset siang2, kecuali pas ada para bos datang berkunjung*

Terus, kenapa listriknya nggak dinyalain 24 jam aja?

Ini saya kutip dari artikel di link tadi.

PLN memang belum hadir di sini. Listriknya masih ditangani Pemda. PLN belum punya apa-apa. Jaringan listriknya pun milik Lisdes. Hanya ada satu orang PLN di seluruh kabupaten itu. Tugasnya membeli listrik milik Pemda, menyalurkannya lewat jaringan milik Lisdes, dan menagih rekening bulanannya.

Pemda sudah kewalahan. Untuk melistriki kota Bintuni, harus membeli BBM Rp 80 miliar/tahun. Tidak banyak lagi dana yang bisa dipakai membangun daerah.

Bayangkan, 80 miliar itu cuma buat konsumsi BBM untuk kelistrikan daerah. Dan itu pun seringkali tidak bisa memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. FYI, APBD Teluk Bintuni tahun 2012 itu sekitar 900 miliar, untuk tahun 2013 ini saya belum tahu, katanya sih mencapai 1 triliun, yang jelas mendapat jatah Dana Alokasi Umum (DAU) dari pusat sebesar 550 miliar.

Melihat jumlah APBD itu, mungkin ada yang tanya, kenapa g dimaksimalin buat bikin listrik 24 jam aja?

APBD kan g cuma dipakai buat listrik, banyak pelayanan publik lainnya yang juga penting, misalnya kesehatan, dan pendidikan. Jadi harus dibagi rata.

Itu baru di Distrik Bintuni saja, belum memasukkan distrik-distrik lain, yang sama sekali tidak terjamah listrik siang dan malam. Wilayah Distrik Manimeri saja, yang menjadi lokasi kompleks kantor kabupaten, listriknya hidup segan mati tak mau, kadang nyala, tapi lebih sering mati. Apalagi kalau kita berkunjung ke distrik pelosok, seperti ketika saya ke Distrik Wamesa. Di sana sama saja, listrik tergantung pada persediaan BBM, padahal BBM itu hanya bisa diperoleh di Kota Bintuni, yang harus ditempuh sekitar 3-4 jam dengan long boat.

Sekarang, mari kita lihat bagian ini.

Yang lebih terasa ironi adalah ini: 50 km dari kota Bintuni, masih berada di wilayah kabupaten Bintuni, ada sebuah kota baru yang hanya boleh dihuni oleh staf dan karyawan yang luar biasa terang-benderangnya. Ada pembangkit listrik yang sangat besar di komplek ini. Inilah komplek industri LNG Tangguh, milik perusahaan asing BP Tangguh.

Perusahaan itulah yang menemukan gas alam dalam jumlah besar, 1.000 bbtud, di Teluk Bintuni. Agar mudah diangkut ke luar negeri gas tersebut semuanya diproses menjadi benda cair (LNG). Tidak sedikit pun disisakan untuk keperluan masyarakat setempat. Semuanya dikirim ke Tiongkok dan California, USA.

Jadi ya, hampir sama seperti wilayah2 tambang lain, terutama yang di Papua. Wilayah itu amat sangat kaya sekali dengan kekayaan alamnya yang melimpah, terutama material tambangnya. Tapi ternyata alamnya yang kaya itu tidak membuat maju kehidupan warganya.

Sebenarnya dalam artikel itu, Dahlan Iskan menyampaikan 3 alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut:

Pertama, PLN akan minta barang dua sendok gas dari proyek LNG Tangguh. Kalau pun tidak ada lagi sisa, setidaknya PLN bisa minta gas yang setiap hari dibakar di menara bakar itu (flare gas). Kalau permintaan dua sendok itu dikabulkan, maka PLN akan membangun pembangkit kecil berbahan bakar gas di dekat proyek LNG Tangguh. Dari sini listrik dialirkan dengan kabel bawah laut 20 kv menyeberang ke kota Bintuni. Atau gas tersebut kami kirim ke Bintuni dengan sistem Compressed Natural Gas (SNG). Kalau permintaan itu dikabulkan dalam hitungan delapan bulan Bintuni sudah akan terang benderang.

Kedua, kalau permintaan gas tersebut tidak dipenuhi PLN bisa membangun PLTU mini di Bintuni. Kebetulan di samping kaya gas, kabupaten ini juga kaya batubara. Namun membangun PLTU kecil di Bintuni jatuhnya sangat mahal. Membangunnya juga lama: paling cepat 2 tahun.

Ketiga, membangun pembangkit listrik tenaga gas batubara (PLTGB) di daerah perbatasan antara kabupaten Bintuni dan Manokwari. Di kawasan ini terdapat cadangan batubara dengan kalori sangat tinggi. Batubara kalori tinggi sangat bagus untuk diubah menjadi gas. Gas yang berasal dari batubara ini yang akan dijadikan bahan bakar listrik. Karena lokasinya di perbatasan, listriknya bisa dialirkan untuk dua kabupaten sekaligus: Bintuni dan Manokwari. Tapi pilihan ini memerlukan waktu sampai tiga tahun dan dengan nilai proyek yang terlalu besar.

Dan katanya pihak BP sendiri sudah menyatakan persetujuannya terhadap opsi pertama.

Tapi entah kenapa, sampai saat ini, usaha untuk mewujudkan listrik 24 jam itu belum terlaksana. Yah semoga sih memang sedang dipersiapkan, bukan malah dilupakan. Dan gosipnya sih, katanya tahun 2013 ini, listrik akan menyala 24 jam. Tapi ya siapa tahu, soalnya pas akhir 2011 juga dijanjikan bahwa tahun 2012 listrik akan menyala 24 jam. Kenyataannya memang menyala 24 jam, tapi hanya di 2 bulan pertama.

Dan by the way, biasanya kalo sampe jam 8-9 pagi listrik masih nyala, kita pasti bertanya2, mau ada acara apa ya, tumben listrik nyala jam segini. Memang biasanya kalau pas ada kegiatan resmi dalam lingkup yang cukup besar biasanya listrik tetap nyala di siang hari. Dan beberapa hari setelah listrik nyala siang, biasanya akan ada mobil keliling yang menginformasikan bahwa listrik akan mati 24 jam. -___-“

Jadi begitulah sedikit cerita tentang Bintuni. InsyaAllah akan ada lanjutannya.

Ini tulisannya serius amat yak, tapi gak ada isinya. hihihi…. -___-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s